 |
| pakaian kotor |
Saya untuk ketiga kali mengirim pakaian ke loundry yang tidak begitu jauh dari rumah, kebetulan mereka punya iklan
yang menarik, Rp 24.000 /5 kg, dan karena saya tahu ditempat lain rata-rata harga Rp
5.000 /kg, lumayan saya pikir bisa menghemat Rp 1.000,- / 5 kg. Pertama kali tidak
masalah karena saya mengirim ke mereka cukup banyak pakaian kotor dengan
meminta karyawan saya mengantar kesitu dan mengambilnya keesokan harinya, kata
karyawan saya 10 kg, jadi total Rp 48.000, saya rasa wajar saja dan kasih uang Rp
48.000 Seminggu kemudian saya kembali meminta
anak saya antar pakaian yang tidak terlalu banyak ke loundry yang sama, dan
keesokan harinya anak saya melaporkan bayarnya Rp 48.000, lho kok begitu? Dalam hati
saya bertanya, karena pakaian sebanyak itu paling-paling hanya sekitar 1 kg
atau lebih sedikit, tapi saya tidak mengatakan apa-apa dan kasih uangnya. Dan kemarin
untuk ketiga kalinya iseng-iseng sebelum
mengantar kesana saya menimbang menggunakan timbangan digital gantung 40kg, dan
saya sengaja membatasi kurang sedikit dari 10 kg, dan tertera persis 9,7 kg, dan minta anak saya untuk mengantarkan.
Pulangnya anak saya bilang tagihan sebesar Rp 72.000 ( di loundry ditimbang dan beratnya 13 kg jadi
dihitung 15 kg dengan perhitungan sbb 3 x 5kg @ Rp 24.000 =Rp 72.000), wah kalau begini sudah masalah
namanya, yang usaha terlalu cepat kaya dan konsumen yang jatuh miskin, ini
perampokan.
 |
| cucian di loundry |
Saya sengaja sendirian ke loundry yang sama sambil bawa bon dan baju
saya yang sudah rapih dan diplastikin dikeluarkan, lalu saya minta mereka
timbang kembali, dan mereka menggunakan
timbangan gantung analog dengan jarum penunjuk, dan diperlihatkan pada saya
berat total 13 kg. Lalu saya keluarkan dari saku timbangan digital gantung yang
sengaja saya bawa dari rumah dan didepan karyawannya saya timbang dan angka
menerakan 9,7 kg, lalu saya katakan,
 |
| ngotot |
“Bagaimana
anda bisa meminta saya harus bayar Rp 72 000 padahal saya sengaja dari rumah
membatasi hanya sampai 9,7 kg, dan disini dengan timbangan kalian beratnya menjadi 13 kg? “
“Wah
saya kan cuma tahu timbangan yang kami pakai disini”, begitu jawabnya.
“Ok, apakah
anda mau katakan timbangan kalian itu lebih benar dari timbangan saya ini dan timbangan
saya yang tidak benar?” Dia diam dan
masuk kedalam memanggil pemiliknya, dan pemiliknya bertanya apa
masalahnya. Secara singkat saya ceritakan kembali masalahnya dan kembali
menimbang didepannya dengan timbangan yang saya bawa. Dan dia katakan,
“Saya
tidak tahu itu, timbangan saya juga dapat beli, apa maksud bapak mau katakan saya
mengotak-atik timbangan ini?”
“Saya tidak pernah katakan begitu, anda yang
mengatakan begitu”, jawab saya dan tiba-tiba dia balik badan meninggalkan saya
sambil bilang,
“Sudahlah,
terserah bapak saja mau kasih berapa”,
tapi
saya jawab,
“Tidak
bisa begitu,,, ini bukan soal uang tapi yang mana yang benar mana yang tidak,
dan saya hanya akan bayar sebanyak yang saya gunakan!”,
dia
melengos dan pergi. Karyawannya nampak bingung, dan saya bayar Rp 50.000, dan
dikembalikan Rp 2.000.
Saya
tidak tahu berapa banyak konsumen yang merasa dirugikan seperti saya, namun menurut
saya sebaiknya jangan buru-buru tergiur dengan iklan, yang ternyata cuma mulut buaya
yang siap memangsa.
Saya
juga tidak bermaksud mengatakan pihak loundry mungkin mengakali timbangan mereka, tapi
saya dengar banyak kasus penyetelan timbangan dan alat ukur yang dilakukan
secara ilegal, seperti meter pom bensin, argo kuda taxi,dan sebagainya, namun
setahu saya itu terjadi pada alat-alat yang masih manual dan sangat kecil kemungkinnya dapat dilakukan pada alat-alat digital. Anda bisa bayangkan seperti yang saya alami
itu, selisih berat sampai 3 kg lebih untuk penimbangan 10kg, sekitar 30% lebih, lalu bagaimana jadinya
kalau 30 kg, 50 kg??
Dulu setahu
saya ada Badan Tera yang bertugas mengontrol dan mengkalibrasi timbangan yang digunalan pedagang, pom bensin, argometer taxi dll,tapi
saya tidak tahu apakah mereka menyentuh juga timbangan pada usaha loundry yang begitu menjamur sekarang ini, namun demikan
saya kira kewajiban kita jugalah sebagai konsumen untuk mengontrol hal-hal
demikian agar sebagai konsumen kita tidak menjadi korban, salah satunya ada baiknya memiliki timbangan sendiri dirumah sebagai pembanding.